Rabu, 23 April 2025

Bahasa Manggarai: Warisan Berharga yang Perlu Diapresiasi



Bahasa Manggarai adalah harta karun budaya yang perlu dikenali dan dijaga dengan penuh kebanggaan. Bahasa ini bukan hanya sekadar alat komunikasi; melainkan juga merupakan identitas yang merefleksikan sejarah, kearifan lokal, dan kehidupan masyarakat Manggarai.

Keunikan bahasa Manggarai dari segi ucapan, kosakata, dan tata bahasa adalah cermin dari kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Penggunaannya menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan antara masa kini dengan akar sejarah dan tradisi leluhur yang berharga.

Meskipun bahasa Manggarai dihadapkan pada tantangan dari penggunaan bahasa Indonesia yang lebih dominan, komitmen untuk melestarikan bahasa ini tetap kuat dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk lembaga pendidikan dan inisiatif lokal.
Penting bagi kita untuk mendorong dan mendukung pelestarian bahasa Manggarai  sebagai warisan budaya yang hidup. 

Hal ini bukan hanya untuk mempertahankan keberagaman budaya Indonesia, tetapi juga untuk menjamin agar nilai-nilai dan kekayaan budaya ini tetap terus berkembang di tengah arus globalisasi.Untuk melestarikan bahasa Manggarai, beberapa langkah dapat diambil:
  1.Pendidikan dan Kesadaran: Mengintegrasikan bahasa Manggarai ke dalam kurikulum pendidikan lokal untuk mengajarkan kepada generasi muda tentang pentingnya dan kekayaan budaya yang terkandung dalam bahasa ini.

 2.Penggunaan Sehari-hari: Mendorong penggunaan bahasa Manggarai dalam interaksi sehari-hari di keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar agar tetap hidup dan digunakan secara aktif.
 
3.Dokumentasi dan Penelitian: Melakukan penelitian lebih lanjut, dokumentasi, dan pengarsipan terhadap bahasa Manggarai, termasuk cerita rakyat, lagu, dan tradisi lisan lainnya untuk menjaga warisan lisan yang khas.

4.Pertemuan Budaya: Mengadakan acara-acara kebudayaan, festival, atau seminar tentang bahasa dan budaya Manggarai untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap keberagaman bahasa dan warisan budaya lokal.

5.Media Modern: Memanfaatkan teknologi dengan menciptakan aplikasi untuk belajar bahasa Manggarai, membuat konten edukatif dalam bahasa tersebut, atau mempromosikan penggunaannya melalui platform digital.

6.Dukungan Pemerintah dan Masyarakat: Mendapatkan dukungan dari pemerintah setempat dan masyarakat secara keseluruhan untuk mengakui, memelihara, dan mendukung upaya pelestarian bahasa Manggarai.

Dengan upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, dan individu, keberlanjutan bahasa Manggarai sebagai bagian dari warisan budaya yang kaya dapat dipertahankan.
Saya yakin melestarikan bahasa Manggarai adalah kunci untuk mempertahankan keanekaragaman budaya Indonesia di tengah arus globalisasi.

Kiss That Frog!

 

Senin, 14 April 2025

Tantangan Membina Kepribadian

 


Buku Tantangan Membina Kepribadian ditulis oleh tim Yayasan Cipta Loka Caraka. Buku ini merupakan panduan praktis bagi siapa saja yang ingin memahami dan membentuk kepribadian yang kuat, positif, dan matang. Penulis menyampaikan bahwa kepribadian tidak terbentuk secara instan, melainkan hasil dari proses panjang melalui pendidikan, pengalaman, dan pembinaan nilai-nilai kehidupan. Buku ini penting karena mengajak pembaca untuk menyadari bahwa mengenal diri sendiri adalah langkah awal yang sangat mendasar dalam proses pembentukan kepribadian.

Beberapa poin penting dalam buku ini antara lain adalah pentingnya mengenal identitas dan potensi diri. Pembaca diajak untuk merenungkan siapa dirinya, apa kelebihan dan kekurangannya, serta bagaimana cara mengelola sikap dan emosinya. Poin penting lainnya adalah pembentukan sikap tanggung jawab dan disiplin diri, yang merupakan fondasi dari kepribadian yang matang. Buku ini juga menekankan pentingnya berpikir kritis, terbuka terhadap pendapat dan kritik, serta memiliki kemauan untuk terus berkembang. Selain itu, kemampuan membangun hubungan sosial yang baik dan sehat juga merupakan bagian penting dari pembinaan kepribadian.

Nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, empati, kerja sama, dan rasa hormat menjadi landasan utama dalam membentuk kepribadian yang baik. Buku ini menegaskan bahwa kepribadian yang positif tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga sangat penting dalam kehidupan sosial. Individu yang memiliki kepribadian yang sehat dan kuat akan lebih mudah diterima, dipercaya, dan mampu memberi pengaruh positif bagi lingkungannya. Buku ini juga mengajak pembaca untuk terus mengembangkan diri dan menjadikan pembinaan kepribadian sebagai bagian dari perjalanan hidup yang berkelanjutan.

Pesan moral yang dapat dipetik adalah bahwa membina kepribadian adalah tanggung jawab setiap individu. Kepribadian bukanlah bawaan lahir semata, tetapi hasil dari usaha yang sadar dan berkelanjutan. Seseorang yang ingin menjadi pribadi yang bermakna harus mengenal dirinya, mengembangkan nilai-nilai kebaikan, dan terus belajar dari pengalaman hidup. Dengan kepribadian yang kuat dan sehat, seseorang akan siap menghadapi tantangan hidup dan mampu memberi manfaat bagi orang lain

Kamis, 10 April 2025

Increasing Promiscuity Among teenagers


 By : Korentina Ekilia Viat

Promiscuity is a growing social issue among teenagers. This term refers to social behavior that goes beyond the norms and values prevailing in society. According to Suhaida (2018) in M. Mbayang (2024), promiscuity is behavior that includes sexual freedom, alcohol consumption, drug use, or other actions that are contrary to social and moral norms. This problem is a serious concern because it has an impact on individuals and the environment. So, why is teenage promiscuity increasing? It is caused by several interrelated factors, such as lack of self-control and awareness of risks, lack of attention and supervision from the family, as well as the influence of the social environment and social media.

Weak Self-Control and Lack of Risk Awareness. One of the main causes of increased promiscuity is the lack of self-control among teenagers. Teenagers who have low self-control are more easily tempted to take impulsive actions without considering the consequences. According to the Head of BKBN NTT, Marianus Mau Kuru, out of every 1,000 adolescent girls in NTT, 97 experience pregnancy outside of marriage and give birth as single mothers. These figures show that many teenagers are unable to control themselves. Often, they do not realize that promiscuity can have a negative impact on their future. In addition, a lack of understanding of the long-term risks can lead to serious consequences, such as dropping out of school and psychological distress.

Lack of Attention and Supervision from Family.Families play an important role in shaping the morals and character of children. However, many youths do not receive sufficient attention and supervision from their parents. This often happens in busy families or broken homes. According to Siana (2015), children with little parental guidance are more likely to seek escape from home, often ending up in unwholesome neighborhoods. For example, a UNICEF study in 2021 found that youths from families with poor communication were more prone to deviant behavior, such as drug use and juvenile delinquency. They feel a lack of attention and eventually seek recognition from the outside world, which may lead them into risky behaviors. Without strong family guidance, teenagers are more likely to stumble into social promiscuity.

Uncontrolled Social Environment and Social Media. The social environment has a significant impact on young people's behavior. If a teenager is surrounded by friends who engage in a promiscuous lifestyle, they are likely to follow suit. In addition, technological advancements contribute to promoting promiscuity. Young people today are heavily exposed to social media, where they often encounter content promoting unrestricted freedom. A study from KOMINFO in 2023 showed that 60% of Indonesian teenagers spend more than five hours a day on social media. Many of them access age-inappropriate content, such as videos featuring promiscuity, free lifestyles, and invitations to try alcohol and drugs. The lack of parental and governmental control over digital content makes teenagers more vulnerable.

In conclusion, teenage promiscuity is increasing due to interrelated factors, ranging from weak self-control and lack of family attention to the influence of the environment and technology. This issue cannot be taken lightly, as its impact can damage the future of teenagers and threaten the morals of future generations. Therefore, the role of families, schools, and the government is very important in providing proper education, supervising the use of social media, and creating a more positive environment for the development of young people. With these steps, it is hoped that the level of promiscuity among young people can be reduced so that they can grow up with better moral values.

Senin, 07 April 2025

Aku Miskin karena Aku Memilih

Aku Miskin Karena Aku Memilih 

Penulis: Punto Ali Fahmi


Buku Aku Miskin Karena Aku Memilih karya Bob Sadino adalah sebuah karya inspiratif yang mengajak pembaca untuk merenungkan kembali arti dari kemiskinan dan kesuksesan. Buku ini berisi kisah nyata perjalanan hidup sang penulis yang dikenal sebagai pengusaha sukses di Indonesia. Dalam buku ini, Bob Sadino menceritakan kisah hidupnya sejak ditinggal kedua orang tuanya pada usia 19 tahun, hingga perjuangannya dalam membangun usaha dari bawah tanpa gengsi sedikit pun. Bob memulai karier bukan dari meja kantor, melainkan dari menjadi sopir taksi, kuli bangunan, hingga akhirnya sukses membangun bisnis KemChicks dan KemFood yang kini terkenal.

Gaya penulisan Bob Sadino dalam buku ini sangat khas, dan  santai. Ia menyampaikan ide-idenya dengan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti, namun tetap kuat dan menyentuh. Bob  menekankan bahwa kesuksesan bukan hanya soal kepintaran, gelar, atau pendidikan tinggi, tetapi lebih kepada keberanian untuk memilih dan bertindak. Menurutnya, pola pikir seperti inilah yang membuat banyak orang tetap miskin, bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena mereka memilih untuk diam dan tidak berani keluar dari zona nyaman.

pesan moral yang sangat menarik dan kuat dari buku ini adalah. Bob Sadino mengajak kita untuk tidak malu memulai sesuatu dari bawah( dari nol). karena setiap orang sukses pun pasti pernah mengalami kegagalan. Ia menyampaikan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar yang harus dilewati jika ingin berhasil. Dengan sikap pantang menyerah, tekad yang kuat, dan kemauan untuk belajar dari pengalaman, siapa pun bisa mengubah hidupnya. Buku ini tidak hanya memotivasi, tetapi juga menyadarkan bahwa pilihan hidup ada di tangan kita sendiri apakah kita ingin miskin karena ikut sistem, atau berani memilih jalan yang berbeda untuk sukses.

Jadi saya sangat merekomendasi buku ini kepada pembaca karena sangat cocok dibaca oleh generasi muda, khususnya mereka yang ingin menjadi wirausahawan atau sedang mencari arah hidup. Bob Sadino berhasil menyampaikan nilai-nilai kehidupan dan perjuangan yang nyata. Di dalam buku ini mengajarkan kita bahwa tidak ada alasan untuk takut gagal, karena dari kegagalan itulah kita akan belajar dan berkembang.

MENGENAL LEBIH DEKAT PERAN ORGANISASI KEROHANIAN DALAM PEMBINAAN MENTAL MAHASISWA

  By : Ekylia Viat, Lhydia Dahung, Andriani Putri, Maya Gumut       Dalam dinamika pendidikan kehidupan kampus yang penuh dengan lika-liku p...