Senin, 05 Mei 2025

Dampak Kecemasan Berlebihan terhadap Kesehatan Mental dan Fisik

Writer : Sabrina Osaka

Year : 2022


    Rasa cemas merupakan emosi wajar yang dimiliki setiap orang. Kecemasan muncul sebagai respons alami tubuh terhadap situasi yang dianggap menegangkan atau berbahaya. Misalnya, saat seseorang menghadapi ujian penting, tekanan di tempat kerja, atau membuat keputusan besar, wajar jika muncul rasa gugup atau gelisah. Namun, ketika rasa cemas berlangsung terus-menerus, tidak rasional, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, hal ini bisa menjadi pertanda gangguan kecemasan. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara mental, tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan fisik.

     Gangguan kecemasan dapat mengganggu sistem saraf pusat. Dalam jangka panjang, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol secara terus-menerus. Akibatnya, muncul gejala seperti sakit kepala, pusing, depresi, bahkan peningkatan berat badan. Tak hanya itu, kecemasan juga dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk detak jantung tidak teratur, nyeri dada, hingga tekanan darah tinggi yang berujung pada risiko penyakit jantung koroner. Di sisi lain, kecemasan juga mengganggu sistem pencernaan, menyebabkan mual, diare, sakit perut, serta menurunnya nafsu makan, dan berisiko menimbulkan sindrom iritasi usus besar (IBS).

    Selain itu, kecemasan yang berkepanjangan melemahkan sistem kekebalan tubuh karena tubuh tidak mendapat sinyal untuk kembali berfungsi normal setelah respons stres. Akibatnya, seseorang menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan infeksi virus. Gangguan pernapasan pun bisa terjadi, terutama pada penderita asma atau penyakit paru-paru, karena kecemasan menyebabkan napas menjadi cepat dan dangkal. Oleh karena itu, penting untuk segera mencari bantuan profesional bila gangguan kecemasan terus berlanjut.

    Salah satu jenis gangguan kecemasan yang perlu dikenali adalah hipokondria, yaitu kondisi di mana seseorang merasa yakin dirinya menderita penyakit serius meskipun hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi yang normal. Penderitanya sering kali memiliki ketakutan berlebih terhadap kesehatan, rajin memeriksa tubuh sendiri, bahkan berganti-ganti dokter hanya untuk mencari pembenaran bahwa dirinya sakit. Penyebab hipokondria bisa berasal dari kurangnya pemahaman tentang kondisi tubuh, pengalaman traumatis, atau pengaruh lingkungan keluarga yang terlalu khawatir soal kesehatan. Pengobatan utama hipokondria adalah psikoterapi, terutama terapi kognitif perilaku (CBT), yang bertujuan mengubah cara berpikir dan merespons kecemasan terhadap gejala tubuh secara lebih rasional.

    Selain kecemasan, bentuk lain dari respons mental yang berlebihan adalah overthinking atau kebiasaan berpikir berlebihan. Kebiasaan ini sering terjadi saat seseorang terlalu larut dalam kekhawatiran, baik mengenai masa depan, masa lalu, maupun hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih sering mengalami overthinking dibanding laki-laki karena faktor biologis dan sosial budaya. Dampak dari overthinking cukup serius. Ia dapat menghambat aktivitas sehari-hari, menurunkan performa kerja, dan mengacaukan kestabilan emosi. Bahkan, kebiasaan ini bisa berujung pada insomnia, sulit berkonsentrasi, mudah panik, atau merasa tidak percaya diri. Dalam jangka panjang, overthinking juga berdampak pada kesehatan fisik, menyebabkan sakit kepala, nyeri dada, tekanan darah tinggi, hingga meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung.

    Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa berpikir secara berlebihan tidak akan menyelesaikan masalah. Justru, hal itu dapat memperburuk kondisi mental dan fisik seseorang. Kita perlu belajar menetapkan batas waktu dalam berpikir, menuliskan beban pikiran, serta mencari aktivitas positif yang menyenangkan seperti olahraga, menonton film, atau mencoba hobi baru. Jika kecemasan, hipokondria, atau overthinking sudah sangat mengganggu kehidupan, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Mengelola kesehatan mental adalah investasi jangka panjang bagi kebahagiaan dan kualitas hidup kita.


2 komentar:

  1. Tulisan ini benar-benar membuka mata! Banyak dari kita sering mengabaikan kecemasan dan overthinking, padahal dampaknya bisa sangat serius—bukan hanya untuk mental, tapi juga fisik. Penjelasannya runtut, informatif, dan menyadarkan kita bahwa menjaga kesehatan mental adalah bagian penting dari hidup yang sering terlupakan.,👏

    BalasHapus

MENGENAL LEBIH DEKAT PERAN ORGANISASI KEROHANIAN DALAM PEMBINAAN MENTAL MAHASISWA

  By : Ekylia Viat, Lhydia Dahung, Andriani Putri, Maya Gumut       Dalam dinamika pendidikan kehidupan kampus yang penuh dengan lika-liku p...